PapuaKini - Membicarakan seks dalam pernikahan bagi sebagian orang masih dirasa tabu. Namun, dengan mengkonsultasikan hal ini dengan ahli, sebenarnya Anda malah dapat menyelamatkan rumahtangga.
Belakangan, muncul suatu istilah "sexual anorexia". Apa lagi ini? Ternyata, istilah ini adalah perkembangan dari gangguan seksual yang berkaitan dengan perilaku enggan untuk berhubungan intim dengan pasangan. Menurut ahli, sexual anorexia dapat dikatakan telah melampaui perilaku sekadar enggan atau menghindari hubungan seks atau perilaku negatif lainnya. Hal ini merupakan suatu kondisi obsesif yang dimiliki seseorang, yang membuatnya menganggap hal-hal yang berkaitan dengan seks adalah sesuatu yang tidak boleh dilakukan atau bahkan dipikirkan.
Seperti apa ciri-ciri orang yang mengalami sexual anorexia? Berikut ini empat karakteristik yang paling sering dijumpai, menurut Dr Paul Hokemeyer, seorang terapis berlisensi untuk masalah pernikahan dan keluarga:
* Dingin terhadap seks, misalnya tidak pernah mau berhubungan seks atau menolak untuk berdiskusi seputar seks.
* Takut terhadap seks, hal-hal yang berhubungan dengan seks. Misalnya, langsung merasa cemas atau tidak nyaman ketika diajak berdiskusi soal seks, ketika orang lain menunjukkan seksualitasnya, atau ketika seseorang memperlihatkan atau mendiskusikan tentang barang-barang yang berhubungan dengan seksual, seperti lingerie.
* Merasa malu atau bersalah akan hal-hal yang berhubungan dengan seks. Misalnya, merasa begitu kotor atau "rusak" ketika mengingat masa lalu Anda yang berkaitan dengan seks, atau saat memikirkan dorongan seksual yang sedang muncul.
* Melakukan hal buruk terhadap diri sendiri agar bisa menghindari hubungan seksual atau agar tidak terlihat seksi. Misalnya, sengaja menggemukkan badan supaya tidak terlihat menarik di mata pasangan atau lawan jenis.
"Sexual anorexia sebenarnya adalah fenomena yang nyata di masyarakat. Hal ini sungguh disayangkan, karena seks adalah salah satu cara kita berkomunikasi dengan pasangan maupun diri sendiri. Ketika bagian yang berhubungan dengan seksual dalam diri kita ditutup rapat-rapat atau dibatasi, maka kondisi psikologis akan terganggu," kata Hokemeyer.
Dia juga menyatakan bahwa banyak orang dengan sengaja mencapai kondisi sexual anorexia untuk menekan rasa sakit emosional yang mereka rasakan. Untuk itu, ia menyarankan agar orang-orang seperti ini segera berkonsultasi dengan ahli untuk bisa mengatasi masalah emosionalnya.(kompas)
Berita Populer
-
PapuaKini - Wartawan di Padang, Sumatera Barat menjadi korban kekerasan aparat Marinir TNI Angkatan Laut saat meliput. Anggota Komisi III...
-
PapuaKini - Upaya pemerintah Indonesia membentuk Unit Percepatan Pembangunan Papua dan Provinsi Papua Barat (UP4B) guna meningkatkan...
-
PapuaKini - Direktorat Kejahatan dan Kekerasan Polda Metro Jaya meringkus kawanan perampok yang beraksi di wilayah Jakarta dan sekitarnya....
-
PapuaKini - Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Saud Usman Nasution menyatakan kepolisian akan mengamankan pengembalian tiket ko...
-
PapuaKini - Mahasiswa Papua meminta pemerintah tidak asal menuduh warga Papua sebagai penyebab gangguan keamanan di Papua. Pemerintah dide...
22.07
Unknown

Posted in: 

0 komentar:
Posting Komentar